Melangkah Pasti untuk Sesuatu yang Berbeda
 
KOMPAS.com — Denmark hanyalah negara kecil. Jumlah penduduknya pun tak mampu menyamai Jakarta yang jumlah warganya kini mencapai sekitar 10 juta. Dengan luas wilayah sekitar 43.100 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 5,475 juta orang, Denmark menjadi sebuah negara yang sering terlewatkan dalam pembicaraan global untuk berbagai hal. Sebagai anggota Uni Eropa, sosok Denmark sering ”tertelan” oleh kebesaran Inggris, Jerman, atau Swiss.
 
Source :
 


Segala Cara untuk Mengurangi Emisi
 
Mungkin Pemerintah Denmark kali ini ingin ”pamer”. Betapa proses pembangunan dengan pendekatan pengurangan emisi karbon bukan berarti keterpurukan ekonomi. Buktinya, ekspor teknologi bersih justru terus membubung dan pada tahun 2007 mencapai sekitar 65 miliar krone Denmark —atau sekitar Rp 910 triliun menurut Kementerian Luar Negeri— mengalahkan nilai ekspor sektor-sektor lain yang total sekitar 558,1 miliar krone Denmark (sekitar Rp 7.812 triliun).
 
Source : Kompas
 


Rumah dan Mimpi Pengurangan Emisi
 
Dunia saat ini sedang menghadapi tantangan besar menyongsong bencana iklim yang (seharusnya) menjadi momok. Jika suhu bumi naik hingga dua derajat, yang diperkirakan akan tercapai pada abad ini, dan jika kita tidak berbuat apa-apa sekarang, maka Planet Bumi akan menuai bencana: mulai dari badai yang semakin sering, iklim yang tak lagi terprediksi, kekeringan, hingga banjir dengan skala masif. Bencana tak langsung adalah kelaparan, kekurangan suplai air bersih, serta penyebaran penyakit tropis yang lebih luas. Masalahnya, bumi dan lingkungan yang melingkupinya bersifat tetap, sementara manusia yang menghuni di atasnya terus berkembang. Perkembangan itu menuntut pembangunan.
 
Source : Kompas
 


Krisis yang Mendorong Kelahiran Kembali
 
Di mana ada masalah, di sana terdapat peluang. Kalimat sakti di dunia kewirausahaan ini tidak hanya menjadi slogan kosong bagi Denmark. Negeri dongeng tersebut kini menjadi salah satu negara terdepan dalam urusan merebut peluang yang ditawarkan oleh problem masif lingkungan, yaitu perubahan iklim. Apa yang menyebabkan Denmark kemudian berubah menjadi sebuah negara yang bisa disebut ”Modern Energy”? Semuanya bermula pada Oktober 1973 yang penuh gejolak. Di kawasan Timur Tengah—ladang minyak tempat bergantungnya banyak negara—sedang berkecamuk perang antara negara-negara Arab melawan Israel yang sering juga disebut sebagai Perang Yom Kippur. Denmark pada masa itu bersama Jepang merupakan negara yang lebih dari 90 persen sumber energinya bergantung pada impor minyak.
 
Source : Kompas
 


Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Biofuel Dunia
 
JAKARTA -- Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi produsen biofuel atau bahan bakar nabati di dunia bersama Brasil. Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Siswono Yudo Husodo, di Jakarta, Jumat, mengatakan, Indonesia memiliki lahan yang luas, ketersediaan tenaga kerja serta pasar baik dalam dan luar negeri untuk mendukung pengembangan etanol dan minyak jarak sebagai energi masa depan.
 
Source : By Republika Newsroom (Jumat, 16 Januari 2009 pukul 19:01:00)
 


Jarak Pagar Si Anti Diare
 
Di zaman penjajahan Jepang, orang dipaksa menanam jarak pagar untuk diambil minyaknya sebagai bahan bakar kapal dan pelumas senjata. Secara tradisional, masyarakat Jawa sebetulnya biasa memanfaatkan daun serta minyak buah jarak untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, yakni diare, penurun panas, gatal, dan borok kronis.
 
Source : Kompas (Kamis, 10 Januari 2008 | 22:36 WIB)
 


Pemanfaatan Energi Alternatif Harus Dipaksakan
 
Saat ini, Indonesia dan seluruh negara di dunia merasakan kalau bumi ini makin panas. Orang menyebutnya pemanasan global (global warming) Seluruh warga dunia pun menjadi gelisah. Pencemaran terjadi dimana-mana, mulai dari air, laut, tanah dan udara.
 
Source : By Republika Newsroom (Senin, 14 Juli 2008 pukul 14:23:00)
 


Ternyata Tidak Sulit Membuat Etanol Sendiri
 
JAKARTA, - Membuat biofuel dalam hal ini etanol untuk mensubstitusi bahan bakar minyak khususnya premium ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Industri kecil skala rumahan pun bisa memproduksinya sendiri, syaratnya hanya ketekunan. Lebih menguntungkan lagi, biofuel ini bisa digunakan untuk campuran premium 5 - 10 persen.
 
Source : Hermas Effendi Prabowo
 


Lahan Gambut Indonesia Salah Satu Kunci Perubahan Iklim
 
Jakarta (ANTARA News) - Lahan gambut adalah salah satu "gudang" karbon atmosferik, karena walaupun hanya mencakup tiga persen keseluruhan daratan Bumi, lahan gambut menyimpan 30 persen karbon yang ada di seluruh dunia.
 
Source : www.antara.com
 


Saatnya Memanfaatkan Teknologi Transgenik untuk Produksi Biofuel
 
Berlin (ANTARA News) - Pergeseran dari penggunaan bahan makanan untuk ketahanan pangan (food security) ke ketersediaan energi (energy security) melalui biofuel membawa dunia memasuki fase menentukan. Apakah memberi "makanan" pada kendaraan dan pabrik jauh lebih bermakna daripada memberi makanan pada manusia.
 
Source : Oleh Dicky Kristanto
 

1   - Total Data : (10)