| WAINGAPU, MINGGU (Minggu, 2 Maret 2008 | 17:50 WIB) -
Minat petani di Sumba Timur mengembangkan jarak pagar sejak setahun belakangan ini menurun. Kondisi ini terjadi karena ketidakjelasan pasar dan tidak adanya teknologi pengolahan biji jarak yang diproduksi petani.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Sumba Timur, Johanes Hiwa Wunu, Minggu (2/3) mengatakan, sejak tahun 2006 petani di Sumba Timur sudah mulai panen jarak pagar. Pada saat itu, 79,6 ha dari 616,3 ha jarak pagar yang dikembangkan mulai produksi. Jumlah produksi sebanyak 98,65 ton.
Tahun pertama produksi, masyarakat masih antusias karena Dinas Perkebunan Kabupaten Sumba Timur membeli hasil produksi masyarakat untuk kepentingan benih.
Dikatakan John, karena untuk kepentingan benih, maka harga yang diberikan ke petani Rp5.000/ kg. Tahun 2007, lanjut John, produksi masih bagus, melebihi tahun 2006. Produksi tahun kedua ini yang mulai tidak tertampung. Bahkan masyarakat sampai datang ke Kantor Dinas Perkebunan Sumba Timur untuk menanyakan ke mana hasil produksi dijual dan siapa yang membeli.
Harga biji jarak komersil yang hanya Rp500/kg juga menjadi salah satu faktor menurunnya minat masyarakat untuk mengembangkan jarak pagar di Sumba Timur. |